Untuk Pria yang Kini Aku Gandeng Tangannya

“Si Hitam Paok” itulah sebutan sayang yang aku berikan padanya. Bukan “baby”, “honey” atau panggilan sayang lainnya. Mungkin kata “sayang” dan ledekan lebih romantis untuk kami. Tak berkulit putih,tak secerdas Einstein dan tak rupawan.

Aku tak perduli dengan bentuknya yang telah Tuhan ciptakan padanya. Aku tak perduli dengan kulitnya yang hitam seperti habis di jemur seharian,rambutnya yang tipis dan hampir punah seperti rambutnya Einstein dan aku tidak perduli dengan tubuhnya yang tidak setinggi Jason Segal.

Dia sudah sempurna dengan bentuknya yang sudah Tuhan ciptakan. Mungkin itu memang sudah porsinya. Sebagaimanapun dia, dia adalah laki-laki yang tidak pernah ingin ku lepas tangannya saat aku berjalan.

Terkadang sifat menyebalkannya pun muncul saat Dota ada di depan matanya. Terkadang gandengan ku lepas hanya karena zat yang membuatnya untuk terus fokus pada layar komputer dan jarinya fokus terhadap mouse dan keyboard. Bagaimanapun juga dia tetap laki-laki yang aku nantikan pelukan hangatnya dan saat aku dipeluknya,aku tidak sanggup untuk melepaskannya walau itu hanya sekejap.

Tidak jarang aku dibuatnya kesal dan marah karena hal sepele, karena sifat kekanak-kanakan yang aku miliki dan juga karena waktu yang tidak pernah sepaham dengan kami. Terkadang marahnya membuatku untuk mati kutu dan tidak dapat bergerak bagaikan es yang membeku. Walau begitu,dia tetaplah laki-laki yang tidak pernah lelah memberiku senyum manisnya,selalu memberikan leluconnya yang membuatku untuk terus bahagia dan dia tetap laki-laki yang tidak pernah membuatku menangis karenanya. Dia adalah laki-laki yang paling sabar yang hadir di dalam semesta.

Bagiku dia lebih dari sempurna,jika ada kata lebih dari kata sempurna,itu sudah pasti jadi miliknya. Laki-laki mungkin banyak yang lebih tampan dari dia,lebih sukses dari dia dan lebih segala-galanya dari dia. Tapi dia adalah laki-laki yang tidak akan pernah aku lepas gandengannya.

Terkadang aku takit untuk menggandengnya lebih kencang,karena semakin erat semakin gampang juga untuk dilepas. Seperti balon. Tapi kali ini lai,semakin ku genggam erat, semakin sulit ku untuk melepasnya.

Untuk semua orang yang telah menghinanya,aku terima hinaan kalian. Hinaan sampah yang seharusnya tidak kalian lontarkan kepadanya sebelum kalian bercermin pada diri kalian sendiri. Apa kalian sudah merasa tampan? Sempurna? Apa kalian sudah merasa lebih baik? Aku tidak pernah perduli dengan ucapan kalian yang terus menyayat telingaku. Bagiku kalian secuil “upil” yang terus nyangkut di hidung dan susah untuk dibersihkan karena sarangnya seperti sarang laba-laba.

Maaf jika kata-kata ini membuat kalian agak geram? Ato memang kurang geram? Itupun tak masalah bagiku. Karena saat kalian menghina dia, kalian bukanlah makhluk yang tampan atau lebih. Kalian tetaplah kotoran sampah yang tidak punya hati dan pikiran. Otak kalian sama seperti udang.

Walaupun hati ini rasanya sakit dan jiwa ini ingin marah,tapi aku coba untuk berdoa. Agar Tuhan mendengar rasa sakitnya aku dan laki-laki yang kini sedang ku genggam tangannya untuk lebih kuat. Mungkin mereka tampan dan lebih baik sehingga bisa mengatakan itu pada lelaki ku, tapi dia lupa bahwa dia akan punya anak ataupun cucu dari keturunannya. Mungkin Tuhan akan membalasnya melalui keturunan mereka. Aamiin..

Dia tetaplah menjadi laki-laki yang selalu ku genggam tangannya dan tidak akan pernah ku lepas. Jika nanti Ia tiba-tiba terjatuh,aku akan langsung mengangkatnya dan mengajaknya untuk tetap maju,begitupun sebaliknya. Aku bangga memilikinya yang tak setampan Daniel Radcliffe,karena sifat baiknya sudah melebihi pria manapun di semesta ini.

#Don’tJudgeMeChallenge #WritingVersion

0 views

Recent Posts

See All

Dreamer

Do you ever feel like when you wanna go to somewhere but you don’t have enough money to get there? I’m the one who always be like that… So, when i was a kid when my friends were talking about dreamed,