Surat untuk Semesta

Selamat Tengah Malam Semesta…

Apa kabar diluar sana? Cukup hangatkah jika aku bercerita? Karena udara yang kurasakan kali ini begitu dingin. Bagaimana keadaan disana? Aku merasakan sesuatu yang berbeda saat ini, aku merasakkan sepinya malam, sunyinya suara malam dan bahkan tidak ada yang menemani langit.

Mungkin langit sedang kesepian. Ijinkanlah aku bercerita soal rumput di depan rumahku wahai semesta. Kali ini rumput itu tidak berwarna hijau seperti biasanya, padahal hampir setiap hari kuberi ia pupuk dan ku siram jika tidak ada hujan. Aku tidak tahu mengapa rumput itu malah semakin kering dan hijaunya hilang. Apa ia butuh sinar matahari?

Pagi itu ku memanggil matahari, berharap ia muncul dengan senyuman sinar yang sangat bercahaya, tapi sayang matahari lebih ingin untuk bersembunyi dibalik awan dan membiarkan hujan pun turun. Bagiku tak mengapa, karena rumputku bisa mulai menerima asupan energi dari hujan.

Siang hari pun hujan mulai berhenti. Mungkin ia sedang beristrahat sejenak. Aku pun memanggil matahari kembali, tapi tetap saja dia tidak ingin keluar dari kenyamanannya. Rumputku sedikit demi sedikit mulai mati. Aku semakin yakin bahwa ia kurang sinar matahari.

Sore harinya, aku memohon pada langit untuk membangunkan matahari yang sedang tidur dalam kenyamanan. Untungnya langit adalah teman yang paling baik dan setia, ia pun membangunkan matahari. Akhirnya matahari muncul kepermukaan. Aku meminta padanya untuk tetap diam selama 1 jam saja, aku ingin rumputku tidak layu dan mati. Aku ingin matahari memberikan sinar indahnya pada rumputku.

Lebih dari 1 jam matahari itu terdiam. Namun ia harus kembali pulang. Karena malam harus datang dan bulan menjemputnya untuk pulang. Tapi rumputku belum juga berwarna hijau, mungkin besok pagi ia mulai hijau. Lagi-lagi saat malam tiba, semuanya sepi dan gelap.

Keesokan paginya, akupun senang. Karena langit menyapaku bersama matahari. Tapi kali ini ada yang berbeda saat mereka menyapaku. Walaupun ada matahari, langit tetap terlihat mendung dan tidak cerah. Matahari pun tidak lagi memancarkan sinar yang cerah. Saat ku keluar akupun terkejut melihat rumputku telah mati semua. Tidak ada sedikit yang hidup.

Aku berpikir apa yang salah dariku saat merawatnya. Padahal aku sudah merawatnya dari sebelum ia tumbuh sampai tumbuh lebat dan menghijau. Kini semuanya layu, hijaunya hilang dan yang tersisa hanyalah tanah. Akupun sangat sedih melihat kejadiaan itu. Aku merasa sepi dan hancur. Rasanya aku gagal merawat rumput itu dengan baik.

Semesta, mungkin kau mengerti mengapa rumput ku mati. Mungkin kau juga tahu apa yang harus ku lakukan. Menanamnya kembali kan? Butuh waktu yang lama untuk menanam semuanya lagi, karena butuh adaptasi dengan hal yang baru lagi. Lalu bagaimana dengan rumput ku yang dulu? Rumput yang dulu sudah menjadi kenangan, tidak bisa ku ungkit lagi. Tidak ada yang ditinggalkannya. Sekarang bagaimana caranya aku harus bisa menanam rumput yang baru dan tidak mati lagi.

Semesta, inilah hidup kan? Semua yang pernah kita lakukan pasti akan menjadi kenangan. Tidak selamanya hidup akan bahagia, pasti ada saatnya kita terluka. Namun yang harus kita lakukan bukanlah kembali menatap luka yang ada, tapi harus bangkit dan berpikir bagaimana caranya luka itu bisa sembuh. Caranya adalah menemukan sesuatu yang baru, karena yang baru akan lebih baik.

#MaretMenulis

0 views

Recent Posts

See All

Dreamer

Do you ever feel like when you wanna go to somewhere but you don’t have enough money to get there? I’m the one who always be like that… So, when i was a kid when my friends were talking about dreamed,