Sang Penggelitik Hati

Cahaya terang yang bersembunyi dibalik awan itu dengan perlahan ia muncul ke permukaan. Senandung kicau burung seakan menyanyikan satu lagu dalam lembaran baru hidupku. Ini adalah awal baruku dimana hati ini sudah terbuka dan siap menerima perasaan baru.

Entah kepada siapa hati ini akan berlabuh, tapi saat ini hatiku dengan pelan membisikkan kata “siap” seolah menampar ku untuk terus melihat ke depan dan mencarikan hati yang tepat. Secuil harapan baru yang aku inginkan kini, tidak ada lagi tetes hujan yang membasahi hati dan pikiranku. Biarkanlah hujan turun di tempat lain, asalkan jangan membasahi mata ini.

Hati ini terus membawa ku maju ke depan, sampai ia bertemu dengan hati yang lain. Banyak hati yang lain menyapa hatiku yang sedang kosong ini. Dengan tatapan jahil mereka, hati ini terkadang mampu dibuatnya terdiam sesaat. Namun aku hanya membiarkannya lewat atau sekedar menyapa balik, tapi tak ku biarkan hati ini untuk tetap diam bersama yang lain. Aku terus berjalan ke depan, sampai hatiku terdiam kembali ketika ia bertemu dengan hati yang lain, namun kali ini ada yang berbeda dari hati yang lain tersebut.

Kadang ingin aku biarkan lewat, tapi seakan tanganku menahannya. Kadang aku hanya ingin membalasnya dengan senyuman kecil saja, tapi bibir ini tidak bisa menahanku untuk tersenyum lebar, bahkan tertawa. Aku ingin terus berjalan, tapi hati ini terus terdiam. Seakan saat aku berjalan, hati ini tidak ikut bersamaku. Ia tetap terdiam di tempat dimana ia bertemu dengan hati yang lain.

Aku mencoba untuk mensinkronkan hati dan pikiranku. Pikiranku pun seakan dibuyarkan oleh sang hati yang seolah mengedipkan matanya kepada pikiran ini. Heum, kacau sekali pikiran ini dibuatnya. Aku pun kembali ke tempat dimana hati terdiam, mencoba untuk membuka pikiran ku di hadapan hati yang lain itu. Seolah pikiran ini mengajak hati untuk lebih mendekat lagi, bukan untuk menjauh.

Aku merasakan magnet yang begitu kuat saat hati ini berada ditempatnya. Seakan-akan magnet ini menarik ku dengan kencang, sehingga aku tidak bisa bergerak dibuatnya. Hati memang tidak pernah berbohong, kalau ia pun senang dibuatnya terdiam. Sekali-kali aku bergerak dengan perlahan, agar kutub magnet ini bisa terlepas, namun semakin aku bergerak magnet ini semakin kuat tarikannya.

Aku merasakkan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Walaupun hati ini pernah tertarik oleh magnet yang lain, namun kali ini tarikan magnetnya berbeda. Ia bila dilepas, semakin menarik hatiku ke dalamnya. Mungkin ini yang disebut hati yang cocok.

Aku pun mulai menyatukan hati ini. Dengan perlahan aku membukakan pintu hatiku agar ia bisa masuk ke dalamnya. Ku sambut dengan senyuman, bukan sekedar membalas senyumannya. Kali ini ku biarkan hati itu masuk di dalam hatiku dan aku tidak sekedar melewatinya. Sempat ragaku dulu melewatinya, tapi apalah daya bila raga dibawa namun hati tetap terdiam dan tak ingin berpindah?

Dia sang penggelitik hati, yang bisa membukakan pintu hatiku. Yang bisa membuat hati ini tersenyum dan terdiam dibuatnya. Membuat hati ini suatu benih yang dinamakan cinta. Akhirnya aku mengenal sang penggelitik hati ini, dia adalah Kamu. Kali ini kita bertemu di satu tempat yang sama, yang kita beri nama “aku cinta kamu”.

#30HariMenulisSuratCinta #16 #JustSayIt

0 views

Recent Posts

See All

Dreamer

Do you ever feel like when you wanna go to somewhere but you don’t have enough money to get there? I’m the one who always be like that… So, when i was a kid when my friends were talking about dreamed,