Kerikil dan Air

Aku bukanlah wanita kuat yang bisa menyembunyikan air mata dibalik bola mataku. Aku bukanlah wanita yang mudah tersenyum jika ada hati yang menghampiri, tapi untukmu itu lain. Kau membuatku tersenyum walau sakit itu nyata hadirnya.

Aku selalu tersenyum walau aku harus menahan sakit, karena permainan mu. Terkadang aku menyembunyikan air mataku di belakang tawa ku. Kau tahu kerikil yang kini ku pijak begitu sakit? Kau hanya tertawa saat melewatinya. Seakan-akan akulah alas mu untuk melewati kerikil itu. Entah mengapa, aku pun masih bisa senang saat aku menopangmu. Kau tahu kan itu sakit? Walaupun sudah berdarah, rasanya tak ada apa-apanya. Aku tetap tersenyum.

Kali ini kau bermain dengan air, yang kau bilang arusnya kencang dan bisa mengantarkan kita pada muaranya. Ku coba untuk mengikutimu, siapa tahu memang benar air itu bisa mengantarkan kita pada muaranya. Tapi sayang, sebelum sampai di muara saja aku sudah tenggelam. Inginku hanyutkan saja diri ini, tapi pasti ujungnya aku sudah tidak bernyawa. Kau senang bila begitu?

Aku pun kini sadar, permainanmu tidak akan pernah berhasil membawaku ke muara yang sering disebut jodoh. Aku pun menyerah dengan semua permainan ini. Kau adalah sesuatu yang selalu aku semogakan dan tak pernah menjadi kenyataan.

#30HariMenulisSuratCinta #7

0 views

Recent Posts

See All

Dreamer

Do you ever feel like when you wanna go to somewhere but you don’t have enough money to get there? I’m the one who always be like that… So, when i was a kid when my friends were talking about dreamed,