Hallo Sunshine

Kenalkan, dia Sunshine. Si penyemangat pagi yang pernah menyemangati ku walaupun secara tidak langsung. Panggil saja dia Sunshine, karena dia memang seperti matahari yang baru saja terbit dari langit.

Hampir 9 tahun lamanya, aku tidak pernah bertemu dengan si penyemangat pagi itu.

Hallo Sunshine, entah dimana dirimu berada sekarang. Semoga kau baik ya dalam lindungannya. Ada satu yang ingin ku ceritakan kepadamu, tentang masa yang indah yang pernah aku nikmati sendirian. Masa indah itu adalah dirimu, yang sering ku lihat setiap pagi saat aku berangkat sekolah. Angkutan umum jurusan GBA-Buah Batu adalah saksi bisu pertemuan kita saat itu. Aku yang masih duduk di kelas 8 SMP, rasanya begitu dini untuk mengatakkan bahwa kau itu indah.

Kau memang seperti matahari, hadir dipagi hari dan tenggelam di sore hari. Kau hadir di setiap pagiku, mengawali hariku dengan senyuman. Aku selalu berharap saat nanti aku menaiki angkutan umum itu lagi, kau hadir di hadapanku. Selalu aku menunggumu di setiap sore,tapi tak sedikit pun batang hidungmu hadir di depan mataku.

Ku atur jadwalku setiap pagi agar aku bisa bertemu denganmu. Kau pasti berangkat pukul 05.45 atau 06.00 pagi. Walaupun terkadang aku melewati mu begitu saja, membiarkan kau pergi dan aku tidak tahu kau kemana. Ingin aku menyapamu,tapi aku malu. Ingin aku tersenyum padamu, tapi aku tetap saja malu. Bahkan inginku mengenalmu saat itupun adalah momen yang tidak akan pernah jadi kenyataan. Ya, tidak jadi kenyataan sampai detik ini.

Aku hanya menyukaimu dalam diam. Saat kita duduk berhadapan pun, aku hanya tersenyum dalam hati. Kala itu angkutan umum pun penuh, hanya tersisa satu bangku di depan bersama pak supir. Aku sudah telat, akupun dengan cepat merebut tempat duduk yang tertinggal satu itu. Saat angkutan umum itu mulai berjalan, tiba-tiba kau mencegatnya. Untung bangku ku masih bisa diisi oleh satu orang lagi dan orang itu adalah dirimu. Kau duduk tepat disebelahku, jantung ku mulai tak karuan, tak jarang aku diam-diam memperhatikanmu lewat kaca spion. Kau memang indah, bola mata coklat dan rambut sedikit cerimis. Kulit mu berwarna putih, ditambah jaket coklat yang menghangatkanmu. Wangi parfum mu, seperti wangi parfum anak laki-laki seusiamu. Bukan parfum mahal pastinya.

Aku turun lebih awal darimu. Belum sempat aku tersenyum dan berkenalan secara langsung padamu. Andai saja aku mengenalmu, kita bisa berangkat sekolah bersama. Kita satu komplek, tapi kita tidak mengenal satu sama lain. Kita selalu bertemu di satu teriminal angkutan umum yang sama, tapi tidak pernah ada kesempatan untuk pergi bersama. Hah…akupun pasrah sekarang, kau dan aku memang tidak bisa kenal apalagi untuk bersama.

Tapi tuhan mungkin memiliki cara yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya. Mungkin cara tuhan adalah rahasia yang paling indah saat kita mengetahuinya. Setelah aku duduk bersebelahan denganmu, aku meninggalkan sesuatu di angkutan umum tersebut, yaitu botol minum ku. Pernah aku menanyakan pada supirnya, namun supir angkutan umum tersebut tidak melihatnya. Aku pun mengikhlaskan saja botol minum itu hilang dan aku pun mengikhlaskan mu,Sunshine. Aku ikhlas kita tidak pernah bertemu lagi. Hampir satu bulan lebih aku tidak bertemu denganmu, aku pikir kau sudah pindah rumah.

Tuhan pun akhirnya menunjukkan rahasianya kepadaku. Saat aku mau menaikki angkutan umum, tiba-tiba ada seseorang hadir dibelakangku. Ia menepuk punggungku, aku pun sontak membalikan badanku dan ternyata orang itu adalah dirimu. Aku pun kaget dan sedikit tidak percaya bahwa itu adalah kau yang selama ini aku harapkan. “Hei, ini botol minum kamu kan?” Tanya mu sambil memperlihatkan botol minumku. Aku pun tak bisa bicara apa-apa, aku hanya tersenyum dan mengangguk kegirangan. “Kemarin ketinggalan ya? Supir angkotnya nyuruh aku bawa. Katanya siapa tau aku seangkot sama kamu lagi, eh baru sekarang seangkotnya” ujarnya sambil tersemyum “makasih ya” aku pun membalasnya dengan senyuman.

Pagi itu seakan-akan ada burung bernyanyi menghampiri kita berdua. Seakan-akan matahari benar-benar muncul di hadapanku. Seakan-akan matahari itu langsung menyapaku dengan senyuman indahnya, ini adalah momen yang aku tunggu selama ini. Kau menyapaku dan tersenyum padaku. Ternyata diam-diam juga kau memperhatikanku, kalau aku sering satu angkutan umum denganmu. Mungkin kau juga setiap hari membawa botol minum ku, kita mungkin memiliki harapan yang sama agar bisa kita bertemu lagi. Akhirnya aku pun mulai bisa tersenyum padamu kala kita duduk di satu tumpangan yang sama. Inginku bertanya siapa namamu, namun rasanya lidah ini terus tertahan dan tidak bisa bergerak.

Sunshine, itu adalah hal yang paling indah yang pernah ku rasakan bersamamu. Kau tersenyum padaku adalah hal yang tidak pernah bisa aku lupakan. Setelah liburan sekolah usai, akupun tidak pernah bertemu denganmu lagi sampai detik ini. Aku juga tidak tahu siapa namamu bahkan mengenalmu lebih jauh pun belum sempat. Aku tidak tahu rumahmu dimana padahal kita satu komplek. Tapi dirimu adalah penyemangat ku di setiap pagiku. Kau adalah awal yang indah disetiap awal hariku. Dimanapun kau berada kini, kau tidak akan pernah aku lupakan.

You are the first time in forever, Sunshine 🙂

#30HariMenulisSuratCinta #6

0 views

Recent Posts

See All

Dreamer

Do you ever feel like when you wanna go to somewhere but you don’t have enough money to get there? I’m the one who always be like that… So, when i was a kid when my friends were talking about dreamed,