Chapter 4

Setiap sabtu kita bertemu di politeknik telkom, lantai tiga tepatnya di ruang SISFO. Ruang pertama kali aku bertemu denganmu dan saat ini pertama kali juga kita berdua untuk mengerjakan aplikasi PA ku, banyak yang aku tanya padamu mengenai PA, kau pun mengajari ku coding. kamu memanglah genius, bisa mengerjakan aplikasi ku dan mengajarkan aku dengan cepat. Hanya saja, aku yang tidak bisa cepat mengerti apa yang sudah kau ajarkan, selalu saja lupa. Untungnya kau penyabar.

Di sela kita belajar, aku mencoba ngobrol denganmu. Mulai menanyakan masalah kerja, kuliah ekstensi sampai dengan masalah percintaan. Aku dan Kamu memang sudah punya pasangan, kamu setia dengan pasanganmu dan akupun setia dengan pasanganku. Saat aku berdua denganmu, aku memikirkan pacarku. Aku takut pacarku berpikir aneh tentang kita berdua, padahal aku dan kamu tidak ada hubungan apa-apa, hanya sebatas teman. Aku pun takut dengan pacarmu, takut berpikir macam-macam tentangku. Namun, aku positive thinking untuk itu. Aku yakin pasangan kita sama-sama telah dewasa, mereka pasti mengerti. Apalagi pacar ku, pasti ia akan mengerti karena ia tahu betapa sulitnya aku mengerja coding. Walaupun aku harus menjelaskan seribu kali kepada pacarku, untuk percaya padaku karena aku tidak mungkin selingkuh denganmu.

Semakin lama semakin aku mengenalmu, intensitas kita bertemu semakin sering. Jika kita tidak bertemu di kampus, aku selalu bertanya lewat line. Apalagi sekarang sudah ada aplikasi teamviewer, aku bisa melihat mu langsung mengerjakan dari laptopku, walaupun kita di tempat berbeda. Tidak hanya soal PA yang kita bicarakan, namun juga tentang urusan pribadi. Aku jadi tahu apa yang membuat mu tidak menikah dengan pacarmu saat itu, mungkin itu yang membuat mu berat untuk menikahinya. Kamu juga tahu hubungan aku dengan pacarku, naik dan turun. Kita tahu satu sama lain, sampai aku berpikir aku memang sayang sama pacarku,tapi ternyata aku tidak bahagia begitupun dengan dirimu. Kita ternyata dalam keadaan yang sama-sama bingung. Dari situlah, kau mulai mencoba mendekati ku. Kau memang laki-laki beruntung bisa mendekati ku, karena setiap laki-laki yang dekat padaku aku selalu menolaknya dan bahkan aku cuek dengan laki-laki lain.

0 views

Recent Posts

See All

Dreamer

Do you ever feel like when you wanna go to somewhere but you don’t have enough money to get there? I’m the one who always be like that… So, when i was a kid when my friends were talking about dreamed,